Senin, 26 November 2012

Uji Kelarutan Senyawa Organik


Senin, 22 Oktober 2012

         I.          Tujuan
Dapat menentukan senyawa tersebut bersifat basa kuat (amina), asam lemah (fenol), asam kuat (asam karboksilat), atau zat netral (aldehid, keton, alcohol, aster, atau eter).

          II.          Dasar Teori
Dengan tes kelarutan, dapat ditentukan apakah senyawa tersebut bersifat basa kuat (amina), asam lemah (fenol), asam kuat (asam karboksilat), atau zat netral (aldehid, keton, alcohol, aster, atau eter). Pelarut yang digunakan dalam tes kelarutan ini adalah HCl 5%, NaOH 5%, NaHCO3 5%, H2SO4 pekat, air dan pelarut-pelarut organic. Kelarutan masing-masing zat dapat dilihat dalam table :



III.        Alat dan Bahan

Alat
Tabung reaksi
Rak tabung
Pipet tetes
Spatula
Bahan
NaOH 5%
HCl 5%
NaHCO3 5%
H2SO4
Zat unknown
  
          IV.       Cara Kerja




Catatan :
Penambahan NaOH 5%, HCl 5%, dan H2SO4 pekat harus dilakukan terhadap sampel asal
  
          V.  Hasil Pengamatan

Hidrokarbon
Penambahan
Hasil Pengamatan
Gambar
Alkohol 96%
H2O + NaOH + HCl + H2SO4
Tidak larut


Fenol
H2O + NaOH+
NaHCO3
Larut (endapan warna hijau larut perlahan-lahan)
Tidak Larut

Toluen
H2O + NaOH + HCl + H2SO4
Tidak larut


n-hexan
H2O + NaOH + HCl + H2SO4
Tidak larut
(Terdapat garis pemisah)



Asam Oksalat

H2O + Lakmus (Lakmus biru menjadi merah)

Larut (Asam)


Asam Asetat
H2O
(Lakmus biru menjadi merah)
Larut (asam)


VI.        Pembahasan

            Pada percobaan kali ini, akan diidentifikasi suatu senyawa organik berdasarkan kelarutannya dalam pelarut tertentu.
Pertama, dilakukan uji kelarutan alkohol 96%. Ketika dilarutkan dengan aquadest, alkohol 96% tidak larut yang ditandai dengan terbentuknya dua fase. Kemudian campuran tersebut ditambahkan natrium hidroksida 5%, namun tetap tidak terlarut. Kemudian ditambahkan lagi asam klorida 5%, dan hasilnya tetap tidak larut. Kemudian ketika ditambahkan asam sulfat, alkohol tetap tidak larut. Alkohol termasuk kedalam pelarut polar, karena mampu membentuk ikatan hidrogen. Berdasarkan teori tersebut, seharusnya alkohol larut ketika ditambahkan aquadest. Namun ternyata tidak. Hal ini disebabkan, etanol memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah jika dibandingkan dengan air. Alasan lain adalah karena etanol maupun memiliki dua gugus yang bersifat polar dan nonpolar, gugus polarnya adalah OH dan gugus non polarnya adalah CH3 sehingga etanol dapat larut pada zat polar dan nonpolar. Selain itu, berdasarkan dasar teori diatas, alkohol seharusnya dapat larut dengan penambahan asam sulfat pekat. Penyimpangan yang terjadi diakibatkan penggunaan asam sulfat yang kurang pekat. Pada praktikum ini digunakan asam sulfat 4 M.
Kedua, dilakukan uji kelarutan senyawa fenol. Ketika dilarutkan dengan aquadest, fenol tidak terlarut, namum ketika ditambahkan natrium hidroksida, fenol dapat terlarut. Alasannya, fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 ml. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Fenol bereaksi dengan larutan natrium hidroksida untuk memberikan larutan tidak berwarna yang mengandung natrium fenoksida. Dalam reaksi ini, ion hidrogen telah dihapus oleh ion hidroksida dari natrium hidroksida. Ketika larutan ditambahkan lagi dengan natrium hidrogen karbonat, larutan tidak terlarut. Karena, ion hidrogen karbonat tidak cukup kuat untuk mengambil ion hidrogen dari fenol.
Ketiga, dilakukan uji kelarutan senyawa toluen. Ketika dilarutkan dengan aquadest, toluen tidak terlarut yang ditandai dengan terbentuknya dua fase. Berdasarkan teori, toluen termasuk dalam senyawa non polar, yang dapat diketahui dari konstanta dielektrik toluen yang kecil, yaitu 2,4. Ketika ditambahkan dengan NaOH, HCl, dan H2SO4, toluen tidak terlarut.
Keempat, dilakukan uji kelarutan senyawa n-heksan. Ketika dilarutkan dengan aquadest, toluen tidak terlarut yang ditandai dengan terbentuknya dua fase. Berdasarkan teori, n-heksan termasuk dalam senyawa non polar, yang dapat diketahui dari konstanta dielektrik toluen yang kecil, yaitu 2,0. Ketika ditambahkan dengan NaOH, HCl, dan H2SO4, n-heksan tidak terlarut.
Kelima, dilakukan uji kelarutan asam oksalat. Asam oksalat larut ketika ditambahkan dengan aquadest. Hal ini disebabkan pembentukan ikatan hidrogen antara -OH group dari air dengan gugus CO-OH asam oksalat. Ketika diuji dengan kertas lakmus, larutan tersebut dapat memerahkan lakmus biru.
Keenam, dilakukan uji kelarutan asam asetat. Asam asetat larut ketika ditambahkan dengan aquadest. Alasannya, senada dengan asam oksalat, yaitu disebabkan pembentukan ikatan hidrogen antara gugus -OH  dari air dengan gugus CO-OH asam asetat. Ketika diuji dengan kertas lakmus, larutan tersebut dapat memerahkan lakmus biru.

VII.      Kesimpulan

  • Dari hasil percobaan, diketahui alkohol termasuk kedalam senyawa inert, namun dalam praktikum ini terjadi kesalahan penggunaan H2SO4
  • Dari hasil percobaan, diketahui fenol termasuk kedalam senyawa asam lemah
  • Dari hasil percobaan, diketahui toluen termasuk kedalam senyawa inert aromatik
  • Dari hasil percobaan, diketahui n-heksana termasuk kedalam senyawa inert
  • Dari hasil percobaan, diketahui asam oksalat termasuk kedalam senyawa asam karboksilat BM rendah
  • Dari hasil percobaan, diketahui asam asetat termasuk kedalam senyawa asam karboksilat BM rendah

  VIII.    Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Toluena
http://id.wikipedia.org/wiki/Pelarut
http://id.wikipedia.org/wiki/Heksana
http://id.wikipedia.org/wiki/Etanol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar