Jumat, 26 Oktober 2012

Pembuatan Bioetanol


PENGARUH KONSENTRASI RAGI, NUTRIENT UREA DAN NPK DALAM FERMENTASI ALPUKAT BUSUK


 
Tanggal: 24 September 2012
I.       TUJUAN PERCOBAAN
-         Menghasilkan Bioetanol dari Alpukat susuk
-         Mengetahui pengaruh konsentrasi ragi, nutrient NPK dan Urea

 
II.       DASAR TEORI
2.1 Bioetanol
      Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme (Anonim, 2007). Bioetanol dapat juga diartikan juga sebagai bahan kimia yang diproduksi dari bahan pangan yang mangandung pati, seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan sagu. Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium (Khairani, 2007). Bioetanol adalah etanol yang dibuat dari biomassa yang mengandung komponen gula, pati, maupun selulosa. Dalam dunia industri, etanol umumnya digunakan sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran untuk minuman keras, serta bahan baku farmasi dan kosmetika. Berdasarkan kadar alkoholnya, etanol terbagi menjadi tiga grade yaitu grade industri dengan kadar alkohol 90-94 %, netral dengan kadar alkohol 96-99,5% (untuk minuman keras atau bahan baku farmasi), sedangkan grade bahan bakar adalah dengan kadaralkohol di atas 99,5 % (Hambali, 2008).
Bioetanol memiliki banyak keunggulan, diantaranya ketika harga BBM naik semakin tinggi, bioetanol dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar kendaraan dengan cara mencampurkannya dengan bensin. Bioetanol lebih ramah lingkungan, karena bahan bakar tersebut memiliki nilai oktan 92 lebih tinggi dari premium nilai oktan 88, dan pertamax nilai oktan 94.  Hal ini menyebabkan bioetanol dapat menggantikan fungsi zat aditif yang sering ditambahkan untuk memperbesar nilai oktan. Zat aditif yang banyak digunakan seperti metal tersier butil eter dan Pb, namun zat aditif tersebut sangat tidak ramah lingkungan dan bisa bersifat toksik. Bioetanol juga merupakan bahan bakar yang tidak mengakumulasi gas karbon dioksida (CO2) dan relatif kompetibel dengan mesin mobil berbahan bakar bensin. Kelebihan lain dari bioetanol ialah cara pembuatannya yang sederhana yaitu fermentasi menggunakan mikroorganisme tertentu (Mursyidin, 2007).

1.2  Alpukat
Buah alpukat merupakan tanaman familia lauraceae dikenal sebagai Persea Americana yang mempunyai proposi 70% air, 20% lemak organik, 10% mineral. Avocado atau Alpukat kaya akan vitamin. Alpukat kaya akan kandungan kimia pada bagian buah dan daunya yang mengandung : saponin, alkaloida, dan flavanoida. Alpukat juga mengandung tanin, atau polifenol, quersetin, dan gula alkohol persit. Sejumlah riset menunjukan bahwa Alpukat memiliki antibakteria yang menghambat pertumbuhan bakteri dalam tubuh, seperti : Staphylococcus sp, Pseudomonas sp, Proteus sp, Bacillus sp, Eschericia sp. Kandungan nutrisi satu buah Alpukat: 23 mg kalsium; 95 Fosfor, 1.4 mg zat besi; 9 mg sodium, 1.368 mg potassium, 660I.U vitamin A; 8.6 mg niacin; 82 mg vitamin C. Selain itu alpukat mengandung lemak yang cukup tinggi. Namun jangan takut karena lemak pada alpukat mirip dengan lemak pada minyak zaitun yang sangat sehat. Lemak yang dikandung dalam alpukat adalah lemak tak jenuh yang berdampak positif dalam tubuh. Lemak pada alpukat juga digunakan dalam pembuatan sabun dan kosmetik.
Alpukat tidak hanya digunakan untuk kesehatan tetapi juga di gunakan di bidang kecantikan yang berkaitan dengan kesehatan pula, karena alpukat sebagai bahan krim pemijat kepala yang bermanfaat untuk kesehatan kulit kepala.

1.3  Fermentasi
Fermentasi adalah pembangkitan energi dengan proses katabolisme senyawa-senyawa organik yang berfungsi sebagai donor elektron atau proses produksi produk dengan menggunakan mikroorganisme sebagai biokatalis (Riadi, 2007). Dalam lingkup proses bioetanol, fermentasi berarti proses konversi glukosa (gula) menjadi etanol dan CO2 (Prihandana, 2007). Pada proses pembuatan bioetanol, fermentasi berfungsi untuk mengubah glukosa menjadi etanol. Mikroorganisme yang digunakan adalah yeast (khamir) (Fardiaz, 1992). Khamir dapat melakukan fermentasi alkohol, yaitu memecah glukosa melalui jalur glikolisis. (Rahman, 1992). Proses fermentasi dilakukan secara aerobik, yaitu tanpa memerlukan oksigen. Senyawa yang dapat dipecah dalam proses fermentasi terutama adalah karbohidrat, sedangkan asam amino hanya dapat difermentasi oleh beberapa jenis bakteri tertentu (Fardiaz, 1992). Prinsip dasar fermentasi adalah mengaktifkan kegiatan mikroba tertentu dengan tujuan mengubah sifat bahan agar dihasilkan suatu yang bermanfaat (Widayati dan Widalestari, 1996). Perubahan tersebut karena dalam proses fermentasi jumlah mikroba diperbanyak dan digiatkan metabolismenya didalam bahan tersebut dalam batas tertentu (Santoso, 1989). Menurut Judoamidjojo dkk. (1992), menyatakan bahwa beberapa langkah utama yang diperlukan dalam melakukan suatu
proses fermentasi diantaranya adalah :
a. Seleksi mikroba atau enzim yang sesuai dengan tujuan.
b. Seleksi media sesuai dengan tujuan.
c. Sterilisasi semua bagian penting untuk mencegah kontaminasi oleh mikroba yang tidak dikehendaki.

Yeast merupakan fungsi uniseluler yang melakukan reproduksi secara pertunasan (budding) atau pembelahan (fission). Yeast tidak berklorofil, tidak berflagella, berukuran lebih besar dari bakteri, tidak dapat membentuk miselium berukuran bulat, bulat telur, batang, silinder seperti buah jeruk, kadang-kadang dapat mengalami diforfisme, bersifat saprofit, namun ada beberapa yang bersifat parasit (Van Rij, 1984). Saccharomyces cerevisiae merupakan yeast yang termasuk dalam kelas Hemiascomycetes, ordo Endomycetales, famili Saccharomycetaceae, Sub family Saccharoycoideae, dan genus Saccharomyces (Frazier dan Westhoff, 1978). Saccharomyces cerevisiae merupakan organisme uniseluler yang bersifat makhluk mikroskopis dan disebut sebagai jasad sakarolitik, yaitu menggunakan gula sebagai sumber karbon untuk metabolisme (Alexopoulus dan Mims, 1979). Saccharomyces cerevisiae mampu menggunakan sejumlah gula, diantaranya sukrosa, glukosa, fruktosa, galaktosa, mannosa, maltosa dan maltotriosa (Lewis dan Young, 1990). Saccharomyces cerevisiae merupakan mikrobia yang paling banyak digunakan pada fermentasi alkohol karena dapat berproduksi tinggi, tahan terhadap kadar alkohol yang tinggi, tahan terhadap kadar gula yang tinggi dan tetap aktif melakukan aktivitasnya pada suhu 4 – 32oC (Kartika et.al.,1992).

2.4 Destilasi
Destilasi adalah proses pemisahan termal yang digunakan di bidang teknik untuk memisahkan campuran (larutan) dalam jumlah yang besar (Bernasconi 1995). Destilasi dan rektifikasi dapat pula diartikan sebagai proses pemisahan karena penguapan salah satu komponen campuran (Bernasconi 1995). Pada proses destilasi bioetanol, pada suhu 79 C ketika cairan bioetanol mulai keluar, temperatur bagian atas kolom harus ditahan. Pengontrolan temperatur dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mengatur aliran air refluks dalam alat destilasi atau dengan cara mengatur api kompor (Prihandana 2007). Setelah itu, fraksi bioetanol 90-95 % akan berhenti mengalir secara perlahan.


 
III.        METODELOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan:
§         Peralatan
-         Neraca digital
-         Toples
-         Peralatan pendukung (mangkuk, pisau dan sendok)
-         Saringan
§         Bahan
-         Daging buah Alpukat busuk
-         Ragi tape
-         NPK
-         Urea

3.2 Prosedur Kerja




Minggu, 21 Oktober 2012

Percobaan 3

Identifikasi Hidrokarbon

Senin, 15 Oktober 2012
       I.            Tujuan
                                                                                                                         
a.       Menyelidiki sifat-sifat fisik, kelarutan dan massa jenis senyawa hidrokarbon.
b.      Membandingkan kereaktivan antara alkana, alkena dan senyawa aromatic.
c.       Menggunakan sifat fisika dan sifat kimia untuk mengidentifikasi senyawa yang tidak diketahui (unknow).

     II.            Dasar Teori
Senyawa organic hanya mengandung atom hydrogen dan karbon yang disebut hidrokarbon. Hidrokarbon dapat dikelompokan sebagai berikut :



Sifat fisik yang dimiliki hidrokarbon disebabkan oleh sifat non polar dari semnyawa tersebut. Umumnya hidrokarbon tidak dapat bercampur dengan pelarut polar seperti air dan etanol. Sebaliknya, hidrokarbon dapat bercampur dengan pelarut yang relative non polar seperti karbon tetraklorida (CCl4) atau diklorometana (CH2Cl2). Reaktivitas kimia senyawa hidrokarbon ditentukan oleh jenis ikatannya. Hidrokarbon jenuh (alkana) tidak resktif terhadap sebagian besar pereaksi. Hidrokarbon tak jenuh (alkena dan alkuna), dapat mengalami reaksi adisi pada ikatan rangkap dua atau rangkap tiganya. Senyawa aromatic biasanya mengalami reaksi substitusi.
Reaksi yang terjadi pada hidrokarbon :
a.       Pembakaran
Hasil pembakaran hidrokarbon adalah CO2 dan H2O

CH4 + 2 O2  → CO2 + 2 H2O
b.      Reaksi Bromin
Hidrokarbon tek jenuh bereaksi cepat dengan bromine dalam larutan CCl4. Reaksi yang terjadi adalah adisi bromin pada karbon ikatan rangkap.
                                             Br   Br
                                            │    │
CH3-CH=CH-CH3 + Br2 ® CH3-CH-CH-CH3
    Merah     tidak berwarna

                   Br    Br
                                                     │      │
CH3-C ยบ C-CH3 + 2 Br2 ® CH3-C ¾ C-CH3
                                                                               merah               │     │
                    Br   Br
            Tidak berwarna

                Larutan bromin berwarna merah kecoklatan, sedangkan hasil reaksinya tidak berwarna. Sehingga terjadinya reaksi ini ditandai dengan hilangnnya larutan bromin. Alkana yang tidak memiliki ikatan rangkap, tidak bereaksi denga bromin (warna merah kecoklatan bromin tetap ada), sedangkan senyawa aromatik dapat mengalami reaksi substitusi dengam bromin dengan adanya katalis Fe atau AlCl3. Reaksi substitusi tersebut juga menghasilkan gas HBr.


c.       Reaksi dengan H2SO4 pekat
Hidrokarbon tak jenuh mengalami reaksi adisi dengan H2SO4 pekat dingin. Produk yang dihasilkan adalah asam alkil sulfonat yang larut dalam H2SO4.
 H    OSO2OH
 │    │
CH3-CH-CH-CH3 + HOSO2OH ® CH3-CH-CH-CH3
                                                                         (H2SO4)
Hidrokarbon tak jenuh dengan H2SO4 pekat tidak bereaksi, sedangkan alkuna dan senyawa aromatic bereaksi lambat.

d.      Reaksi dengan KMnO4 (uji Baeyer)
Larutan KMnO4 mengoksidasi senyawa tak jenuh. Alkana dan senyawa aromatik umumnya tidak reaktif dengan KMnO4. Terjadinya reaksi ini ditandai dengan hilangnya warna ungu dari KMnO4 dan terbentuknya endapan coklat MnO4. Produk yang dihasilkan suatu glikol atau 1,2-diol.
          OH OH
           │    │
3 CH3-CH-CH-CH3 + 2 KMnO4 + 4 H2O ® 3 CH3-CH-CH-CH3 + 2 MnO4 + 2 KOH
                                Ungu                                                                 coklat


  III.            Alat dan Bahan
·         Alat
รผ  Tabung reaksi
รผ  Pipet tetes
รผ  Batang pengaduk
รผ  Kaca arloji
รผ  Gelas piala
รผ  Gelas ukur

·         Bahan
รผ  Sikloheksana
รผ  Sikloheksena
รผ  Toluene
รผ  Senyawa unknown
รผ  H2SO4 pekat
รผ  Br2 1% dalam heksana
รผ  Minyak tanah
รผ  KMnO4 1%

  IV.            Cara Kerja
A.      Sifat Fisik Hidrokarbon
1.       Kelarutan hidrokarbon dalam air

Dimasukkan sikloheksana, sikloheksena, toluene dan senyawa unknown
¯
Ditambahkan 10 tetes air ke dalam tiap tabung reaksi
¯
Diamati komponen apa di bagian bawah dan komponen apa di bagian atas
¯
Dikocok
¯
Didiamkan sejenak
¯
Diamati kembali


2.       Kelarutan Hidrokarbon dalam minyak

Dimasukkan sikloheksana, sikloheksena, toluene dan senyawa unknown
¯
Ditambahkan 10 tetes minyak ke dalam tiap tabung reaksi
¯
Diamati pemisahan yang terjadi
¯
Dikocok
¯
Diamati kembali
¯
Dibandingkan dengan hasil pengamatan sebelumnya


B.      Sifat kimia Hidrokarbon
1.       Reaksi Pembakaran

Ditempatkan 10 tetes dari tiap hidrokarbon yang akan diuji dan senyawa unknown ke dalam gelas arloji
¯
Dibakar dengan hati-hati
¯
Diamati nyala dan warna asap yang dihasilkan


2.       Reaksi dengan Bromin

Dimasukkan 1 ml dari tiap hidrokarbon ke dalam tabung yang berbeda
¯
Ditambahkan setetes dengan hati-hati larutan Br2 1% dalam heksana sambil dikocok perlahan
¯
Reaksi positif bila warna merah kecoklatan dari Br2 hilang


3.       Reaksi dengan KMnO4

Dimasukkan 1 ml dari tiap hidrokarbon ke dalam tabung yang berbeda
¯
Ditambahkan setetes dengan hati-hati larutan KMnO4 1% sambil dikocok perlahan
¯
Reaksi positif bila warna ungu dari KMnO4 hilang dan timbul endapan coklat MnO4
¯
Dihitung jumlah tetes KMnO4 yang diperlukan


4.       Reaksi dengan H2SO4

Dimasukkan 20 tetes dari tiap hidrokarbon ke dalam tabung yang berbeda
¯
Ditempatkan ke dalam penangggas es
¯
Ditambahkan 10 tetes H2SO4 pekat yang sudah didinginkan sambil dikocok secara hati-hati
¯
Diamati reaksi yang terjadi


5.       Senyawa Unknown
Dibandingkan hasil pengamatan senyawa unknown dengan hidrokarbon
yang diketahui
¯
Ditentukan jenis senyawa unknown yang diberikan

V   Hasil Pengamatan

Larutan
Perlakuan
Hasil
10 tetes toluen
        Ditambahkan 10 tetes aquadest
        Ditambahkan 10 tetes minyak tanah
         Kedua larutan terpisah
        Kedua larutan bercampur
10 tetes sikloheksana
         Ditambahkan 10 tetes aquadest
         Ditambahkan 10 tetes minyak tanah
         Kedua larutan terpisah
         Kedua larutan bercampur
10 tetes sample unknown
         Ditambahkan 10 tetes KmnO
    
        Terbentuk endapan coklat



VI   Pembahasan

       Percobaan kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi sutu senyawa hidrokarbon berdasarkan sifat fisik dan kimia yang dimiliki senyawa tersebut. 
       Sifat fisik yang ingin diketahui dari percobaan ini adalah kelarutan senyawa hidrokarbon tersebut dalam pelarut polar dan non polar. Dari percobaan yang telah dilakukan, diketahui bahwa senyawa hidrokarbon tidak larut dalam aquadest, dimana diketahui bahwa aquadest adalah pelarut polar. Pada reaksi tersebut, terbentuk dua fasa dimana aquadest dibawah, dan senyawa hidrokarbon diatas. hal ini karena perbedaan massa jenis senyawa hidrokarbon yang lebih kecil dari aquadest.  Sedangkan dalam minyak tanah yang diketahui merupakan senyawa non polar, senyawa hidrokarbon tersebut dapat larut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa senyawa hidrokarbon bersifat non polar, karena kelarutannya dengan pelarut non polar. 
        Untuk sifat-sifat kimia, dalam percobaan yang telah dilakukan digunakan pereaksi KMnO4 1% untuk menguji senyawa unknown. Dari uji yang dilakukan dengan pereaksi KMnO4, terjadi reaksi yang ditandai dengan terbentuknya endapan coklat. Hal ini dapat terjadi karena Mn merupakan unsur transisi, dimana unsur transisi memiliki beberapa bilangan oksidasi yang ditandai dengan perbedaan warna pada setiap bilangan oksidasi. Terjadinya reaksi redoks, dimana senyawa hidrokarbon mengalami oksidasi dan KMnO4 mengalami reduksi, merubah bilangan oksidasi Mn dalam KMnO4 yaitu +7 yang memberi warna ungu menjadi senyawa MnO4 dengan biloks Mn +4 yang memberikan warna coklat. Selain itu, reaksi oksidasi yang terjadi mengakibatkan ikatan rangkap dua terputus dan diubah menjadi ikatan tunggal. Dari percobaan tersebut diketahui bahwa senyawa unknown tersebut adalah senyawa tak jenuh.


VII   Kesimpulan
  • Senyawa hidrokarbon memiliki sifat non polar
  • Larutan unknown adalah senyawa hidrokarbon tak jenuh

VIII  Daftar Pustaka

http://choesnanmoesthofa.wordpress.com/2012/04/01/mangan-mn/


IX     Lampiran

Pertanyaan
  1. Identifikasi zat unknown yang diberikan! dari uji yang dilakukan, diketahui zat unknown tersebut adalah fenol
  2. Tuliskan persamaan 1 butena dengan: -Br atau CHCl2 dan - KMnO4 !
  3. Bagaimana cara mudah untuk membedakan oktana dari 1 oktena!

PEMURNIAN ETHANOL



PEMURNIAN ETHANOL TEKNIS MENJADI ETHANOL ABSOLUT SECARA BATCH DAN KONTINYU DENGAN ADSORBENT TEPUNG JAGUNG




1. Pendahuluan
Krisis energi  yang dialami  dunia  khususnya  Indonesia  saat ini telah  menjadi  fenomena  yang harus segera ditanggulangi.  Berdasarkan  fakta tersebut, maka mau tidak mau Indonesia harus mengembangkan  energi alternatif salah  satunya  ethanol.  Ethanol  merupakan  bahan  pembentuk  gasohol  yaitu  campuran  alkohol  dan bensin.  Yang umum digunakan dalam pemisahan dan pemurnian ethanol 96 % adalah dengan distilasi. Distilasi merupakan suatu proses pemisahan yang didasarkan pada derajat penguapan (titik didih) senyawa-senyawa  di dalam umpan. Ethanol dipisahkan dari campurannya  melalui dua tahap untuk mendapatkan  ethanol absolute sebagai bahan baku gasohol. Metode  konvensional  dengan  dua tahap  proses  distilasi  campuran  ethanol-air  menjadi  ethanol  95,6%  berat  pada konsentrasi  azeotrop.  Kemudian  dilanjutkan  dengan  distilasi  azeotrop     dengan  menambahkan   pelarut  sebagai komponen  ketiga  yang  dibolehkan  untuk  recovery  ethanol  100%  [Tanaka  dan  Otten  (1986)].  Komponen  yang dimaksud antara lain benzen, sikloheksana, etilen glikol, pentana, dietil eter, gliserin dan bensin. Benzen atau bensin dipakai  sebagai  pelarut  apabila  produk  ethanol  100%  akan  digunakan  sebagai  bahan  bakar  [Widayat,  (2002)]. Metode pemisahan konvensional sangat efektif tapi dengan distilasi dua tahap ini membutuhkan energi yang besar.
Proses  adsorbsi  untuk  pengeringan  ethanol  dengan  menggunakan  adsorbent  anorganik  (CaO  dan  K2CO3)
pertama kali dijadikan sebagai literatur dan terpublikasi  pada tahun 1930-an. Meskipun prosedur ini telah menjadi
standar  teknik  laboratorium  selama  50 tahun,  namun  dalam  perkembangannya  telah  ditemukan  metode  adsorbsi dengan menggunakan  bahan organik. Dengan demikian untuk efisiensi energi  metode yang tepat digunakan dalam pemisahan ethanol-air adalah dengan metode adsorbsi.
Adsorpsi merupakan suatu peristiwa terkontaknya  pertikel padatan dan cairan pada kondisi tertentu sehingga
sebagian  cairan  terserap  di  permukaan  padatan  dan  konsentrasi  cairan  yang  tidak  terserap  tidak  mengalami perubahan  (Brown, 1950). Proses adsorbsi menggunakan  adsorbent  biji-bijian  untuk dehirasi bahan bakar alkohol (Ladisch  and  Dyck  1979).  Mereka  telah  mencoba  menggunakan  adsorbent  organik  seperti  tepung  jagung,  gula, celullosa,  biji jagung dan sisa-sisa  jagung. Dan ternyata sama baiknya  dengan menggunakan  adsorbent  anorganik seperti CaO, NaOH, dan CaSO. Hasilnya dari percobaan mengindikasikan  bahwa selullosa, tepung jagung, dan biji jagung memberikan  hasil yang sama dengan CaO. Ini menunjukan  adsorbent organik mampu menghidrasi  ethanol menjadi  murni  lebih  dari  99%  volume.  Selanjutnya,  dari  hasil  pengamatan  untuk  proses  regenerasi  adsorbent organik   kebutuhan energi jauh lebih sedikit daripada dengan CaO. Regenerasi adsorbent selullosa dibutuhkan 430 kJ/kg untuk memproduksi  ethanol  anhidrid,  sedangkan  adsorbent  CaO dibutuhkan  900 kJ/kg.   Proses  regenerasi
adsorbent CaO dilakukan pada temperatur 160-170 0C, sedangkan regenerasi pada adsorbent jagung pada temperatur
80-100 0C (Ladisch, dkk, 1984, Walis and Falek, Robertson and Pavlath, 1985).
Pada  penelitian  ini  difokuskan  pada  pemurnian  ethanol  teknis  pada  suhu  kamar  menggunakan  adsorbent tepung jagung menjadi ethanol absolute. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh waktu operasi, diameter dan berat adsorbent terhadap hasil adsorpsi serta membandingkan proses adsorpsi batch dan kontinyu


2.  Bahan dan Metode Penelitian
Bahan  yang digunakan  dalam  penelitian  adalah   ethanol  teknis  93,75 % v/v, ethanol  absolute  dan tepung jagung berbagai ukuran.
Peralatan  yang  digunakan  adalah  Timbangan,  Stopwatch,  Erlenmeyer,  Gelas  ukur,   1 set peralatan  untuk proses  batch (Magnetic  stirrer, Beaker  glass ) dan 1 set untuk proses  kontinyu  (selang  , pompa,  kran, statif  dan klem).
Adapun variabel tetap untuk proses batch yang digunakan adalah berat ethanol teknis sebesar 100 gram, suhu kamar (300C), kecepatan  pengadukan  skala 7 dan waktu operasi batch 60   menit. Untuk proses kontinyu  variable tetapnya adalah berat adsorbent sebesar 10 gr dan suhu  kamar (300C). Variable  berubah untuk proses batch adalah berat adsorbent yaitu 10 dan 20 gr, diameter adsorbent 0, 425 dan 1 (mm). Variable berubah untuk proses kontinyu yaitu diameter adsorbent 0, 425 dan 1 (mm). Rangkaian alat percobaan dapat dilihat pada gambar 1 dan 2. Respon
yang diamati adalah konsentrasi ethanol teknis hasil adsorpsi setiap selang waktu tertentu.
Percobaan  dilakukan  secara batch dan kontinyu.  Pada proses batch, 100 gr ethanol  umpan dimasukkan  ke dalam beaker glass bersamaan dengan tepung jagung dan dilakukan pengadukan dengan kecepatan tetap selama 60 menit. Untuk mengetahui  konsentrasi  ethanol tiap waktunya,  dilakukan pengambilan  10 ml ethanol hasil adsorpsi tiap 15 menit untuk dianalisa dengan GC. Proses kontinyu, larutan ethanol umpan dipompa menuju kolom adsorber. Laju alir umpan disesuaikan  supaya terjadi olakan didalam adsorber.  Ethanol  yang keluar dari adsorber  dianalisa konsentrasinya menggunakan GC tiap 10 menit.

Gambar  1  Rangkaian  Alat  Adsorpsi  Batch:  (1).  Beaker  glass;  (2).  Magnetik;  (3).  Pengatur temperatur; (4). Tombol on/off; (5). Pengatur kecepatan pengadukan; (6). Magnetic stirer lengkap





Gambar 2 Rangkaian Alat Adsorpsi Kontinyu: (1). Penampung ethanol teknis; (2). Selang; (3).  Adsorber;  (4).  Tepung  jagung;  (5).  Penyangga;  (6).  Penampung  hasil.  Spesifikasi adsorber: bahan plastik; diameter dalam 1,5 cm, tebal 0,2 cm, tinggi 21,5 cm.